IP OR IPK TAK KALAHKAN SEGALANYA
Dengan membaca judul di atas mungkin banyak orang yang berpikir kalau penulisnya pasti orang yang tidak optimis dalam akademik. Atau eranggapan bahwa penulisnya pasti orang yang gak “doyan” belajar and punya IPK pas-pasan.
Bahkan ketika tulisan ini belum rampung hingga THE END sudah ada yang member komentar,”Yakin Kak?”
Atau ada yang berpendapat,”Bener juga ya, yang penting kan isi otaknya atau lebih halusnya ilmu yang dimilikinya”.
Terserah orang memberi komentar apa saja. Mungkin terdengar sedikit egois. Tapi saya punya pendapat dan sudut pandang (point of view) yang berbeda. Bukankah setiap orang mempunyai kebebasan berpikir dan mengeluarkan pendapat seperti yang termaktub di dalam UUD 1945?
Mengapa saya menuliskan judul di atas untuk meng-cover tulisan ini?
Kita sadari sekarang ini cukup banyak, bahkan kata cukup terasa kurang untuk menggambarkan betapa banyaknya mahasiswa/I yang mengejar IP or IPK yang setinggi-tingginya tak peduli bagaimana cara mendapatkannya, “halal” atau ”tak halal”. Yang terpenting ambisi untuk memeroleh nilai bagus bias tercapai. Bukankah setiap saat ada malaikat yang mengawasi kita secara bergiliran atas perintah-Nya?
Akankah nilai yang didapatkan dengan cara yang tak baik bisa membuat kita ingkar dengan-Nya?
Dan akankah ambisi itu mengalahkan segalanya?
Tak sedikit di antara kita yang membohongi dosen dengan memberikan tugas atau ujian yang bukan hasil kerja atau pemikiran kita sendiri. Dan tak lama lagi kita akan menemui masa di mana perkuliahan akan usai, yang mungkin banyak di antara mahasiswa/I yang akan pulang kampong dan bertemu dengan orang tua kita. Dengan bangga kita tunjukkan kepada mereka bahwasannya IP kita kali ini tiga koma sekian atau empat.
Sadarkah kita telah membohongi banyak orang, bahkan orang yang sangat kita cintai, orang tua kita?
Sadarkah kita telah membohongi hati nurani kita sendiri?
Apakah kita tidak merasa sedih, di masa muda di saat otak (brain) kita dapat digunakan secara maksimal, dapat diisi dengan asupan-asupan ilmu, tapi kita hannya sibuk dengan kegiatan yang hanya membuang-buang waktu (killing time) dan kurang manfaat.
Lantas…
Di dunia kerja maupun di masyarakat, orang lain melihat seseorang berdasarkan kemampuan yang dimiliki, bukan semata nilai yang dibawa. Apalah arti sebuah kertas yang setiap barisnya berjejer nilai A jika kita sendiri tidak dapat memberikan bukti konkret.
Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak orang atau instansi di Indonesia yang melihat atau menerima kita berdasarkan coretan pada kertas itu. Tapi, mereka atau instansi tersebut nantinya juga akan melihat kinerja dan kapabilitas kita. Dan kalau sudah seperti itu, seseorang yang memiliki kemampuanlah yang akan bertahan sampai akhir pada posisi puncak.
Maka tidak heranlah kalau banyak pejabat yang memimpin negara kita adalah orang-orang yang tidak berkompeten dan menguasai disiplin ilmu tertentu.
So bagaimana solusinya???
Pertama sekali, berikan konsumsi hatimu dengan motivasi-motivasi yang dapat mendorongmu untk lebih giat dalam belajar. Motivasi bisa berupa motivasi internal maupun eksternal.
Motivasi internal adalah motivasi yang berlasal dari dalam diri kita sendiri. Misalnya, apa yang kita cita-citakan atau impikan. Seperti lantunan seorang seniman yang lagunya terjual hingga ribuan kopi,”Nidji” dalam Laskar Pelangi:
“Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukan dunia
Berlarilah tanpa lelah, sampai enkau meraihnya...”
Jadi raihlah impianmu. Tancapkan ia sebagai pilar di hatimu yang terdalam hingga ke dasar. Ingat kembali (remember you’re memory) masa-masa di mana kamu menjadi yang nomor satu, menjadi yang terbaik di antara teman-temanmu. Lakukan proses dan cara kamu dalam meraihnya. Semuanya pasti butuh kerja keras. Dan yakinlah kamu bisa mengembalikan kejayaan itu di tanganmu. Maka perlahan energi positif akan mengalir di dalam dirimu hingga naik ke otak dan menstimulasimu untuk berubah. Berubah untuk satu pencapaian, KEBERHASILAN!
Yang kedua adalah motivasi secara eksternal, yaitu motivasi yang berasal dari luar diri kita. Misalnya orang tua kita. Ingatlah wajah mereka yang telah bersusah payah mencari uang untuk melanjutkan studi kita. Mungkin ada di antara orang tua kita yang setiap hari harus ke sawah, di bawah teriknya mentari membakar atau hujan yang membasahi. Atau bahkan ada di antaranya yang rela berhutang untuk dapat membuat kuliah kita terus lanjut.
Jadi buatlah mereka bangga dengan nilai terbaik yang kita berikan bukan hanya sekedar coretan tanpa makna. Tentunya dengan cara yang “halal”.
Motivasi berikutnya yaitu bergabunglah dengan orang-orang yang memiliki kemauan keras dalam belajar dan kemauan untuk menuntun bangsa ini ke suatu titik cerah yang kita semua impikan, KEMAJUAN.
Jika kemampuan kita di bawah rata-rata, mintalah orang yang lebih pintar untuk membantu kita dalam belajar.
Atau, bagi kamu yang memiliki hobi membaca novel, silakan baca novel-novel yang di dalamnya sarat motivasi untuk belajar. Misalnya tetralogi Laskar Pelangi. Novel pertama dan kedua. Di dalam novelnya kamu akan temukan semangat Sang jenius Lintang yang memiliki kemauan keras dalam belajar. Seorang Arai yang tak kenal putus asa untuk menggapai impian yang menjadi tujuan hiduonya.
Dan masi banyak lagi hal-hal yang bisa kamu jadikan motivasi. Jadikanlah belajar bak hobi yang mengisi aktivitas harianmu.
Ingatlah Rasulullah SAW telah menyerukan pada umatnya untuk belajar dari buaian hingga liang lahat, belajar hingga ke negeri Cina.
Jangan menyerah dengan keterbatasan maupun rasa puas dengan apa yang sudah diperoleh.
Jika belajar sudah menjadi kebiasaan yang membuat kamu semakin penasaran dan penasaran dengan ilmu yang kamu sukai, Insya Allah nilai A akan menyertai usahamu dan tak mau jauh-jauh dari KHS-mu.
Dan hal yang paling utama adalah tepiskan dinding pembatas antara diri kita dengan zat yang membolak-balikkan hati, Allah SWT, mintalah agar dibukakan pintu hati kita untuk mau dan semangat dalam menekuni ilmu. Tengadahkan tangan kepada Sang Penguasa Ilmu agar diberi kemudahan dalam belajar. Karena usaha tanpa doa, bagaikan pohon yang tumbuh tanpa akar, kelak akan jatuh jua.
Semoga bermanfaat! Wallahu a’lam
Wassalam…
Emil Hani (Pendidikan Matematika 2008)
IP OR IPK TAK KALAHKAN SEGALANYA
Posted by UKMI Ar-Rahman UNIMED
|
|
siiiip dah...
BalasHapus