Waktu menunjukkan pukul 20.30 WIB. Rinai hujan tipis jatuh dari ketinggian lima meter, terjun bebas ke teras lantai ruangan Teori BBLKI.
Sejuknya sang bayu berhembus membuat orang yang merasakannya semangat untuk berselancar di lautan mimpi.
Belum lagi penyampaian materi dari seseorang yang sengaja diundang ketika itu justru mendukung gerakan cepat tidur.
Maka aku adalah salah satu dari puluhan peserta yang saat itu diserang syndrome ngantuk. Beberapa menit waktu berjalan maka rasa ngantuk yang kualami semakin parah. Ketika itu aku duduk paling belakang. Kulihat rangkaian kata bertuliskan “NGANTUK NIH...!!!” dari teman yang duduk semeja denganku. Tak tega untuk membiarkan tulisannya tak terbalas, maka kutuliskan “sama” di bawah tulisannya tadi. Yang berarti aku setuju dengan pendapatnya.
Kuperhatikan peserta lain yang duduk di sebalah meja kami, kiri dan kanan sedang berperang melawan kantuk untuk mempertahankan agar kedua bola mata mereka tetap pada posisinya.
Ditambah lagi seorang peserta yang duduk tepat di depan teman semejaku sudah tertidur pulas.
Sesaat kemudian seorang peserta akhwat ketika itu memakai jilbab ungu dan baju merah serta rok yang sewarna dengan jilbab yang ia pakai sedang memalingkan wajahnya ke arah kami berdua. Jaraknya yang hanya sekitar dua meter membuat aku melihat dengan jelas wajah polosnya yang menjadikan perutku serasa bak air di dalam plastik tertutup yang hanya diisi setengahnya saja, lalu diguncang ke atas, ke bawah, dan ke atas lagi dengan kecepatan sekitar 200 m/s dalam waktu beberapa menit.
Tak bisa lagi kutahan tawa karena melihatnya seperti itu. Rasa kantuk yang kurasakan tadi tiba-tiba hilang.
Melihat aku tertawa, dia pun mulai memasang wajah anehnya dengan kedua alis mata naik beberapa centi seraya bertanya, “Kenapa?”
Aku hanya terus tertawa menundukkan wajah ke laci meja yang ada di depanku. Tanpa menjawab sepatah kata pun pertanyaan yang sempat beberapa kali ia ulang.
Kalimat yang bersarang di hati tak bisa keluar untuk kalahkan tawaku melihat warna kemerah-merahan menempel pada sisi putih bola matanya. Terdengar ironis memang.
Awalnya sudah ada suara sumbang dari salah satu peserta bahwa pengisi materi malam ini yang namanya sudah ia ketahui sebelumnya bakal buat ngantuk dan membosankan.
Yup...terbuktilah pernyataannya dengan lebih dari 50% peserta mengalami syndrome ngantuk. Hiks...hiks... ˆ-ˆ
Mungkin pemateri tidak tepat hadir ketika suasana malam yang dingin itu terjadi. Dari pada melanjutkan syndrome ngantuk itu, maka kutuliskan saat ini juga kisah aneh ini sebagai memori aneh dan lucu serta untuk memenuhi tugas “kared” alias kajian redaksi. He...he... [emil/ math 08]
Syndrome Ngantuk
Posted by UKMI Ar-Rahman UNIMED
|
|
http://penulismudasukses.blogspot.com/2011/02/8-tips-menghindari-rasa-kantuk-saat.html
BalasHapus