By:
Nurhasanah Sidabalok
Staf
Dept. RPK UKMI Ar- Rahman UNIMED 2011- 2012
“Kamu punya duit 2000 gak?”
“Tuk apa?”
“Tuk parkir di hatimu”
Cuit… cuit…
Demikian
rayuan gombal yang sedang marak kita dengarkan di kalanga kaum muda saat ini. Tidak
ada yang salah. Hanya ingin mendapatkan sebuah senyuman dari seorang sahabat.
Senyum yang seolah sudah sangat sulit untuk ditemukan di saat seperti ini.
Senyum yang sudah direbut sang agenda- agenda dan dibawa pergi jauh. Senyum
yang seakan- akan bukan saatnya lagi dimunculkan di tengah- tengah amanah
dakwah yang dibawa. Hingga tak jarang tanpa disadari banyak orang- orang
terdekat mulai menjauh satu persatu.
Dakwah kampus butuh
pengorbanan. Ia sifatnya dinamis, hingga selalu
ada tuntutan- tututan baru untuk para kader dakwah. Bukan hal yang aneh jika
seseorang yang sejak bergabung di dakwah kampus, banyak yang merasa ditinggal.
Artinya, waktu yang kita miliki akan semakin terbagi hingga masing- masing
bagian harus rela memberikan sebagain porsinya untuk dakwah ini. Yang menjadi
aneh adalah ketika seseorang tidak merasakan perubahan itu hingga ia jauh
melangkah dalam agenda dakwahnya. Jadi satu pemahaman yang harus kita samakan
adalah bahwa berhubungan dengan dakwah
kampus akan membuat warna dan perjalanan hidup kita akan berbeda dari yang lain.
Terlepas perbedaannnya itu seperti apa, itu disesuaiakan dengan posisi kita
sebagai apa pada awalnya dan masa sekarang.
Berangkat
dari pemahaman tersebut, tentu bukan suatu
alasan untuk kemudian menyalahkan dakwah ini atas berbagai perubahan yang
terjadi dalam hidup kita. Tersitanya
banyak waktu, terkurasnya pikiran, adalah lumrah. Selanjutnya, apakah kita
akan membiarkan semua amanah ini merenggut masa muda kita??? (ckckck). Relakah
kita jika kebahagiaan yang selama ini kita rasakan dibawa pergi olehnya?
Padatnya agenda bukan selanjutnya membolehkan kita untuk mengurangi tegur sapa,
senyum kepada saudara kita serta menayakan kabar mereka. Bukan demikian yang
diharapkan. Sungguh dakwah ini terlalu suci untuk kita cemari dengan pemahaman
yang sangat berseberangan. Tidak layak. Sungguh kerdil diri kita jika demikian cara kita menjalankan
dakwah ini. So, how? Bagaimana
langkah yang harus kita ambil hingga dakwah ini tidak serta merta merenggut masa muda kita yang katanya untuk bersenang-
senang? Hingga kita juga mampu merasakan apa yang orang lain rasakan di
luar sana?
Sebagai
seorang aktivis dakwah kampus yang cerdas dan soleh, tentunya kita harus mampu
untuk menentukan sikap dan mengambil langkah yang tepat. Jika dihadapkan pada
situasi demikian dimana amanah terasa berat, bukan pilihan yang tepat untuk
kemudian mengorbankan senyuaman kita yang selama ini berkilau. Yang perlu
dilakukan adalah upaya mempersiapkan diri menerima amanah dan kemudian
meningkatkan kemampuan dalam menjalankan amanah. Bentuk konkritnya dapat
diperhatikan sebagai berikut.
Pertama, memahami konsep dakwah seutuhnya. Saat
kita paham akan hakikat dakwah sebenarnya, maka proses ini tidak kemudian
menciutkan langkahnya. Perubahan- perubahan yang kita alami dalam hidup sejak
bergabung di dakwah ini akan dipandang sebagai hal yang wajar. Saat paham bahwa
dakwah itu tidak ditaburi oleh bunga- bunga melainkan penuh onak duri dan
rintangan, kita akan menanggapinya sebagaimana seorang kader seharusnya
bersikap. Hingga amanah dakwah tidak dianggap menjadi beban yang berat dan tak
berarti, namun dipandang sebagai lading amal dan investasi.
Untuk
itu, sering- seringlah mengikuti kajian- kajian keislaman seperti tasqif,
keputrian, atau bentuk forum lainnya. Satu hal yang sangat disayangkan adalah
banyaknya kader (pengurus, red) yang merasa dirinya tidak perlu lagi untuk
mengikuti suplemen- suplemen untuk anggota baru, dengan alasan sudah pernah
atau ada hal lain yag sengaja dijadikan alasan untuk tidak mengikutinya. Perlu
kita pahamai bersama bahwa, materi yang
sama jika disampaikan oleh orang berbeda pada waktu dan tempat yag berbeda
hasilnya akan berbeda. Untuk itu perlu kembali kita bangun rasa ingin tahu
dan rendah hati untuk duduk belajar bersama dengan mereka yang bukan pengurus. Jadilah pembelajar sejati!
Kedua,
berbagi dengan kader lain. Sekilas
mungkin akrab, namun ternyata jauh. Tegur sapa, salam, ternyata belum cukup
menjadi bukti nyata kedekatan kita. Serng- seringlah berdiskusi! Satu permasalahan
klasik yang masih juga ditemukan di lapangan bahwa ada beberapa kader yang
merasa enggan untuk bertanya atau sekadar berbagi kabar dengan yang lain. Sebut
saja misalnya dengan kakak/ abangnya. Apakah itu mungkin tak sempat, tak
pantas, atau mungkin tak tau apa yang ingin ditanyakan atau dibagikan.
Budaya
berdiskusi hendaknya lebih digalakkan sebagai cirri khas dari para aktivis
dakwah kampus. Tidak dipungkiri, efek yang dihasilkan dari budaya ini sangat
luar biasa tertama dalam pengokohan eksistensi. Hal ini dapat
menjadi keuatan bagi diri kita untuk saatnya menanmkan satu statement: saya tidak sendiri. Kita pribadi juga
akan paham bahwa amanah yang kita miliki ternyata belum seberapa dibandingkan
amanah saudara yang lain. Sehingga buka suatau alasan untuk kita menemui
saudara kita dengan kerutan di wajah disertai goresan- goresan amanah di dahi.
Ketiga,
mendekatkan diri kepada- Nya. Saat
amanah diberikan pada kita, satu hal yang harus segera dipahamai dan dimaknai
adalah, amanah ini datangnya dari Allah, bukan dari Koord. Dept. Kaderisasi,
Ketua Umum, atau murabbi dan sebagainya. Jika ini sudah terpatri jelas dalam
hati kita, maka ia akan mengantarkan kita pada suatu upaya untuk melayakkan
diri menerima amanah tersebut di hadapan- Nya. Selanjutnya, ia akan menjadikan
diri kita sosok yang produktif, bukan malah di kemudian hari berkata,”Nah kan, siapa suruh ana diberikan amanah
ini. Sudah ana bilang gak sanggup tetap saja dipaksa.”
Bertaqarrub kepada Allah akan membantu kita
dalam menjalankan amanah ini. Seberapapun maksimalnya usaha kita jika tidak
dibarengi dengan rasa harap dan butuh
akan bantuan- Nya, akan sult bagi kita untuk mencapai target- targetnya.
Akhirnya,
dakwah adalah satu kebutuhan bagi kita untuk memperbanyak bekal di hari akhir
nanti. Amanah dakwah tidak layak untuk dianggap sebagai beban. Ia akan
menjadikan kita lebih dewasa. Lebih mampu mengambil langkah, lebih bijaksana.
Amanah ini hanya akan bisa dijalankan dengan baik jika kita memiliki ilmu, jika
kita paham hakikat dakwah, jka kita dekat dengan Sang Pemberi amanah. Amanah
ini tidak harus dibawakan dengan raut wajah tegang dan penuh goresan agenda.
Pemahaman ini akan mengantarkan kita pada hari- hari yang indah dalam
menjalankan amanah, tanpa harus merusak kebahagiaan orang lain. Semoga
bermanfaat. (20/12san)

Mohon penjelasan lebih, tentang konsep dakwah seutuhnya?
BalasHapusmenyampaikan, itulah konsep dakwah seutuhnya.
BalasHapusdakwah/ menyampaikan adalah kewajiban.
Apa yang disampaikan?
BalasHapus(hal urgen yang harus disampaikan)
Sukron jawabannya..
Lanjutkan!!!
BalasHapus