You are not alone. Itu tema Qolbu Line kali ini, bersama
Ust.Hamzah Sagimun, Lc. Berangkat dari fenomena di lapangan, banyaknya kader
yang kurang semangat, sedikit terkacaukan pikirannya oleh kondisi sekeliling,
dan niat yang sedikit mulai berubah. Hingga tak jarang satu persatu mundur,
istirahat sebentar (katanya), ada kesibukan lain, dan mulai ogah- ogahan untuk
menuntut ilmu. Kekecewaan bermunculan di sana- sini.
Bagi
teman- teman yang tidak berkesempatan hadir di acara tersebut, berikut sedikit
ulasan materi.
Cekidot!
Dakwah
adalah amal jama’i. Teamwork. Orang- orang yang bergabung di dalamnya bukanlah
sembarangan. Mereka adalah orang- orang yang mampu menahan amarah, mampu
mengendalikan perasaan, mampu itsar, dan mereka adalah para penebar kebaikan. Selain
itu, mereka juga adalah orang- orang yang peka dan peduli, energik, ramah, dan
berkarakter islami. Demikianlah idealnya. Nah, bagaimana dengan fakta di
lapangan? Tentu sulit menemukan sosok- sosok yang demikian, tapi bisa.
Berhubungan dengan manusia, tentu berbeda dengan jika kita berhubungan dengan
computer, atau mesin lainnya. Sesuatu yang bisa langsung kita matikan dan
tinggalkan jika kita tidak suka. Tapi jika dengan manusia? Impossible! Oleh
karena itu, mari kita belajar psikologi. (belajar
masing2)
Dakwah
menjadi satu kebutuhan bagi orang- orang yang memiliki visi dan misi yang jelas
di muka bumi. Berkaitan dengan visi dan misi, Imam Syahid Hasan Al Banna
menyebutkan ada 3 tipe manusia seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an.
1. Manusia yang tidak kenal visi dan misi (QS.
Muhammad: 12)
2. Manusia yang visi dan misinya lemah (QS. Ali
Imran: 14)
3. Manusia yang visi dan misinya adalah membuat
perpecahan (QS. Al Baqarah: 204)
4. Manusia yang visi dan misinya adalah beribadah
(QS. Al Hajj: 77- 78)
Berbicara
tenatng dakwah, setidaknya ada 3 hal yang perlu kita pahami bersama:
1. Al ghayah = Tujuan = Lillahi ta’ala
2. Al hadaf = Jalan yang mengantar kita pada tujuan
3. Al wasilah = Fasilitas yang digunakan untuk
mencapai tujuan
Saat
tujuan akhir kita jelas, lillahi ta’ala maka semuanya akan baik- baik saja.
Teman- teman yang mulai lemah tidak kemudian turut menjadikan ia lemah, namun
justru dia yang menguatkan. Teman- teman yang merasa kecewa, tidak kemudian
menjadikannya membumbui cerita- cerita itu hingga kekecewaan semakin memuncak,
namun dia justru balik bertanya, apakah yang sudah kita berikan pada orang
lain? Jangan- jangan orang lain juga merasa kecewa dengan sikap, tutur kata,
atau amalan kita? Yok, intropeksi diri.
Berikut
beberapa nasihat untukmu, yang menisbatkan diri sebagai kader dakwah:
1. Kekuatan ruhiyah adalah kekuatan terbesar.
2. Jangan pernah merasa bangga dengan jumlah yang
mayoritas. Saat jumlah yang banyak tidak didukung oleh perbaikan ilmu dan amal,
apa yang bakal terjadi?
3. Tidak ada kata istirahat dalam berdakwah.
4. Tsiqoh dengan alasan yang tepat.
5. Lapang dada menjadi keharusan dalam setiap keputusan
yang ditetapkan qiyadah.
6. Kemauan yang kuat untuk memperbaiki diri
sepatutnya ada dalam diri setiap kader.
7. Kecintaan kepada Allah akan menghadirkan rasa
harap dan cemas akan ibadah yang telah dikerjakan.
Kamu
tidak sendirian. Ada Allah yang akan menjadi teman setiamu saat suka maupun
duka.
Salam
kontribusi dari teman- teman RPK Universitas!
[Nurhasanah Sidabalok]
[Nurhasanah Sidabalok]

0 komentar :
Posting Komentar