Home » » # TAHUN BARU HIJRIAH #

# TAHUN BARU HIJRIAH #

Posted by UKMI Ar-Rahman UNIMED


SALAM UKHUWUAH

Sobat UKMI, tepat ketika matahari terbanam di tanggal 14 November 2012 kita memasuki 1 Muharram 1434 Hijriah. Harapannya semoga di tahun baru 1434H ini, kita bisa lebih memperbaiki diri lagi ke dalam ruang lingkup positif dan tetap istiqomah di jalan-Nya. Alangkah lebih baiknya kalau kita perbanyak amalan harian kita untuk penghapusan dosa-dosa kita yang telah lalu. Salah satunya di bulan Muharram ini.
Sobat UKMI dah pada tau Spesialnya bulan Muharram? Berikut penjelasannya :
1. Muharram adalah bulan yang mulia.
Allah ta’ala berfirman :
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” (QS. At-Taubah : 36)

Imam Ath-Thabari berkata, Bulan itu ada dua belas, 4 diantaranya merupakan bulan haram (mulia), dimana orang-orang jahiliyah dahulu mengagungkan dan memuliakannya. Mereka mengharamkan peperangan pada bulan tersebut. Sampai seandainya ada seseorang bertemu dengan orang yang membunuh ayahnya maka dia tidak akan menyerangnya. Bulan yang empat itu adalah Rajab Mudhor, dan tiga bulan berurutan, yaitu Dzulqa’idah, Dzulhijjah dan Muharram. Dengan ini nyatalah khabar-khabar yang disabdakan oleh Rasulullah. Kemudian At-Thabari meriwayatkan beberapa hadits, diantaranya hadits dari sahabat Abu Bakrah, yang diriwayatkan Imam Bukhari (no. 4662), Rasulullah bersabda, Wahai manusia, sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana keadaan ketika Allah menciptakan langit dan bumi, dan sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ada dua belas bulan, diantaranya terdapat empat bulan haram, pertamanya adalah Rajab Mudhor, terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban, kemudian Dzulqa’idah, Dzulhijjah dan Muharram”
(Jami’ul Bayan 10/124-125)

Qotadah berkata, Amalan shalih pada bulan haram pahalanya sangat agung dan perbuatan dhzalim di dalamnya merupakan kedhzaliman yang besar pula dibanding pada bulan selainnya, walaupun yang namanya kedhzaliman itu kapanpun merupakan dosa yang besar
(Ma’alimut Tanzil 4/44-45)

Pada bulan Muharram ini terdapat hari yang pada hari itu terjadi peristiwa yang besar dan pertolongan yang nyata, menangnya kebenaran mengalahkan kebathilan, dimana Allah Ta’ala telah menyelamatkan Nabi Musa as. dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya. Hari tersebut mempunyai keutamaan yang agung dan kemuliaan yang abadi sejak dulu. Dia adalah hari kesepuluh yang dinamakan Asyura.   

2. Puasa Asyura.
Berdasarkan hadits-hadits berikut ini. Dahulu Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa Asyura, tatkala puasa Ramadhan diwajibkan, maka bagi siapa yang ingin berpuasa, puasalah, dan siapa yang tidak ingin, tidak usah berpuasa”. (HR. Bukhari no. 2001)

Tatkala Nabi hijrah ke Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu, lalu beliau bertanya kepada mereka,
“Kenapa kalian berpuasa?”
Mereka menjawab,
Sesungguhnya pada hari ini Allah Ta’ala telah menyelamatkan Musa dan kaumnya dan membinasakan Fir’aun beserta kaumnya. Dan Musa berpuasa pada harinya, maka kamipun berpuasa”. Kemudian beliau berkata, “Kami lebih berhak atas Musa dari pada kalian”. (HR. Bukhari no. 2004, Muslim no.1130). Maka Nabi berpuasa pada hari itu dan memerintahkan untuk melakukan puasanya.

3. Keutamaan Puasa Asyura
Ibnu Abbas ditanya tentang puasa Asyura, jawabnya, “Saya tidak mengetahui bahwa Rasulullah puasa pada hari yang paling dicari keutamaannya selain hari ini (Asyura) dan bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari no. 1902, Muslim no.1132)

Rasulullah ditanya tentang puasa Asyura, jawab beliau, “Puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu”. (HR. Muslim no.1162, Tirmidzi no.752)

4. Disunnahkan untuk berpuasa hari sebelum dan sesudah Asyura (hari ke-10)
Dari Ibnu Abbas, tatkala Rasulullah berpuasa Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashara”.
Maka beliau besabda, Tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari ke-9”
Ibnu Abbas berkata, “Tahun berikutnya belum datang Rasulullah keburu meninggal”. (HR. Muslim no.1134)
Imam Nawawi berkata, “Jumhur ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa hari Asyura adalah hari ke-10. Yang berpendapat demikian diantaranya adalah Sa’id bin Musayyib, Al-Hasan Al-Bashri, Malik bin  Anas, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rawaih dan banyak lagi.
Pendapat ini sesuai dengan (dzahir) teks hadits dan tuntutan lafadznya”. (Syarah  Shahih Muslim 9/205)
Hanya saja Rasulullah berniat untuk berpuasa hari ke-9 sebagai penyelisihan terhadap ahlul kitab.
Setelah dikabarkan kepada beliau bahwa hari tersebut diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashara. Oleh karena itu Imam Nawawi berkata, “Imam Syafi’idan para sahabatnya, Ahmad, Ishaq dan selainnya berpendapat : Disunnahkan untuk berpuasa hari ke-9 dan ke-10 karena Nabi berpuasa hari ke-10 serta berniat untuk puasa hari ke-9.

Sebagian Ulama bekata, “Barangkali sebab puasa hari ke-9 bersama hari ke-10 adalah agar tidak menyerupai orang-orang Yahudi jika hanya berpuasa hari kesepuluh saja. Dan dalam hadits tersebut memang terdapat indikasi ke arah itu”.
Selain pendapat itu, sebagian ulama berpendapat hendaknya berpuasa satu hari sebelum dan sesudahnya berdasarkan hadits. Rasulullah bersabda, “Berpuasalah hari Asyura dan berbedalah dengan orang Yahudi, (dengan) berpuasalah 1 hari sebelumnya dan sesudahnya.(HR. Ahmad no.2155)
*dikutip dari http://kaahil.wordpress.comdengan perevisian seperlunya


0 komentar :

Posting Komentar