By: Nurhasanah Sidabalok
Kadang aku berpikir, apa tujuanku berada di sini?
Toh orangtua memintaku untuk belajar.
Dihantarkan dengan beberapa kardus berisi perlengkapanku selama kuliah di
kampung orang. Tentu saja agar aku tidak repot membeli sendiri nantinya, dan
yang paling penting agar aku bisa lebih berhemat dengan membeli yang lebih
murah. Lalu? Tas besar yang berisi pakaianku. Dan tidak lupa lembaran uang yang
dimasukkan ibu ke dalam kantongan berupa kaos agar ia lebih terjamin.
Dan apa yag aku lakukan sekarang?
Sibuk praktek dakwah sana- sini, syuro’ yang gak putus- putus, bahkan nyaris tanpa di sadari
intensitas memikirkan kelancaran agenda A hingga agenda Z lebih padat
dibandingkan memikirkan IPK meningkat atau hanya sekadar membuat tugas kuliah
dipandang puas oleh sang dosen.
Ah, entah apa jadinya aku nanti.
Lalu kulihat temanku yang semakin hari semakin besar. Selalu
ada saja karya yang membuatku iri padanya. Lihat, dia membawa nama kampus di
beberapa event nasional. Dan aku
semakin kecil di depannya. Padahal aku dahulu bukan begini. Selalu ada prestasi
yang kubuat untuk membanggakan kedua oranngtuaku dan sekolahku.
Aku semakin tidak mengenal diri. Dakwah ini telah mengubahku.
Aku semakin merasa aneh berhadapan dengan diri sendiri. Timbul pertanyaan,
apakah memang aku telah salah pilih jalan? Apakah aku memang sudah buta dengan
apa yang ada di hadapanku?
Di tengah kegalauan, aku tetap bergerak. Bisa dibayangkan
bagaimana hasil dari setiap kerjaku yang setengah- setengah. Kebiasaan untuk
menyimpan semua beban diri membuatku berpikir sendiri atas apa yang terjadi.
Membaca buku dan merenung. Kedua itulah yang kulakukan kalau sudah terjangkiti virus
ini. Rumput tetangga lebih hijau,
benar sekali kalimat bijak itu.
Lalu aku mencoba untuk look
in. Ternyata banyak hal- hal baik yang terjadi pada diriku. Banyak
perubahan yang semakin hari semakin baik jika diperhatikan lebih baik. Aku
semakin lebih rapi dengan semua urusanku, jiwa kepemimpinanku bertumbuh, rasa sosial dan peduli sangat dekat, menjadi
problem solver, dan banyak lagi nilai- nilai akhlak yang membaik. Kuakui memang
sedikit perubahan yang membaik di bidang akademik. Namun lihat IPK ku, masih
bisa dibanggakan. Untuk kegiatan akademik memang tidak begitu kuprioritaskan
karena memang urusan dakwah sudah menyita banyak waktuku.
Aku cukup bangga dengan prestasi yang diperoleh teman-
temanku yang menjauh dari dakwah ini. Mereka yang ingin berbuat baik lewat cara
lain selain dakwah kampus. Namun miris melihat mereka yang semakin hari semakin
jauh dari agama ini. Tidak disangka, penentangan yang keras akan beberapa
hal dari mereka pada waktu dulu,
sekarang malah diangggap tidak apa- apa. Aku hanya dapat beristighfar di dalam
hati dan berdoa semoga terjaga dari hal- hal yang demikian. Nasihat coba
kusampaiakn walau seringkali hanya ditanggapi lewat cengiran dan senyuman
tipis.
Alhamdulillah, aku bersyukur disinggahkan di kampung dakwah
ini. Keistiqomahan adalah harga mati. Semoga ini bernilai pahala di sisi Allah
dan memberi keceriaan untuk kedua orangtuaku kelak di akhirat. Aamiin.
*salam sukses untuk adik- adik di UKMI Ar- Rahman UNIMED
** semangat perbaikan, jaga kesehatan!
*** you’re great!

0 komentar :
Posting Komentar