Home » » Nasehat Menjelang Hari Raya Idul Fitri

Nasehat Menjelang Hari Raya Idul Fitri

Posted by UKMI Ar-Rahman UNIMED


Buku induk catatan harian perbuatan manusia telah ditutup. Saat-saat indah penuh dengan rahmat telah terlewati. Rasanya baru kemarin kita menyambut kedatangannya dan sekarang kita harus melepasnya pergi. Sebelum ini, kita berada di dalam hari-hari Ramadhan, namun sekarang hari-hari itu telah berlalu dan tak mungkin kembali lagi. Jika umat lain disekeliling kita merayakan hari raya dan hari-hari besarnya dengan aneka ragam ritual dan upacara, tetap saja semuanya itu palsu dan sesat. Yang benar adalah apa yang di ajarkan nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Alhamdulillah, kita ditakdirkan dapat menapaki jalan lurus dan menjadi bagian umat Islam yang banyak mendapatkan keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki oleh umat lain. Biarkan kedua matamu melihat bagaimana keadaan kaum muslimin saat menyambut hari raya, hari ketika tidak berpuasa dianggap sebagai ibadah, seperti beribadah pada hari-hari di bulan Ramadhan dengan melaksanakan puasa.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, bahwa saat pertama kali tiba di Madinah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat penduduknya memiliki dua hari besar yang mereka rayakan. Lalu beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ اْلأَضْحَى
“Dahulu kalian memiliki dua hari yang kamu rayakan bersama. Sekarang Allah Ta’ala telah mengganti dua hari itu dengan yang lebih baik, yaitu hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa`i)[1]
Hari raya merupakan salah satu syiar Islam dan salah satu momen penting di dalam syariatnya. Namun, banyak sekali kaum muslimin yang tidak memahami makna agung di balik hari raya itu. Sehingga, dengan mudah mereka menganggapnya sebagai hari-hari biasa. Bahkan, mereka cenderung mengutamakan hari-hari yang mereka buat sendiri, seperti hari ulang tahun, hari ibu, dan lain sebagainya. Mereka menyambutnya dengan bersuka ria, berbahagia, dan tidak segan menghabiskan banyak biaya untuk mempersiapkannya. Sementara, bila hari raya Islam tiba, maka suasananya sepi, seperti tiada arti sama sekali. Allah Ta’ala berfirman,
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ {32}
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi‘ar-syi‘ar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)
Sesungguhnya hari raya merupakan hari yang membahagiakan, yang menjadi milik bagi orang-orang yang berhati bersih dan ikhlas. Hari raya bukanlah milik mereka yang mampu membeli pakaian baru dan mempunyai aneka makanan untuk tamu. Tetapi ia adalah milik orang-orang yang takut deraan siksa hari kiamat, bertakwa kepada Allah, dan memperbanyak ibadah dengan mengharap cucuran rahmat dari-Nya.
Wahai saudaraku!
Berikut ini adalah ringkasan kegiatan yang seyogianya dilakukan pada hari raya yang sebentar lagi akan tiba.
Pertama: Bersyukurlah kepada Allah Ta’ala, karena dengan anugerah-Nya engkau dapat menyelesaikan puasa Ramadhan dengan sempurna. Setelah itu perbanyaklah doa kepada-Nya, dengan memohon agar Dia menerima puasa dan shalat-shalatmu dan mengampuni kesalahan dan kekurangan di dalamnya.
Kedua: Bertakbir. Takbiran ini disyariatkan mulai terbenamnya matahari pada akhir bulan Ramadhan sampai shalat Idul fitri hendak dimulai. Allah Ta’ala berfirman,
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ {185}
“……Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Bagi laki-laki disunnahkan membacanya dengan suara keras saat berada di masjid, mushalla, atau pasar, dengan tujuan mengagungkan Allah Ta’ala, beribadah dan bersyukur kepada-Nya.
Ketiga: Membayar zakat fitrah. Di penghujung bulan Ramadhan, Allah Ta’ala mewajibkan membayar zakat fitrah kepada kaum muslimin, baik dewasa, kecil, laki-laki dan perempuan. Waktu yang paling utama memberikan zakat adalah sebelum melakukan shalat Idul fitri. Tidak boleh mengundurnya sampai shalat Idul Fitri selesai. Hal yang harus benar-benar dipastikan, adalah penerima zakat fitrah itu adalah orang yang berhak. Ketika menyalurkan zakat, seyogianya seorang muslim melibatkan anak-anaknya, agar terpupuk di dalam diri mereka kesadaran jiwa sosial yang tinggi.
Keempat: Mandi dan mengenakan pakaian yang paling bagus yang telah diberi wewangian bagi laki-laki. Sedangkan kaum wanita, keluar ke tempat berlangsungnya shalat Idul fitri tanpa membuka aurat, dan bebas dari aroma wewangian.
Kelima: Memakan kurma secara ganjil; satu, tiga, atau lima butir buah kurma, sebelum berangkat ke tempat shalat.
Keenam: Mengikuti shalat Idul Fitri secara berjamaah dan mendengarkan khutbah sampai selesai.
Ketujuh: Mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, atau تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ  (semoga Allah Ta’alamenerima ibadah kita bersama).
Wahai saudaraku seiman!
Ada pemandangan yang sangat menyedihkan, bagaimana sebagian dari kita menutup bulan ini dengan kemaksiatan. Mestinya mereka beristighfar di penghujung bulan, tapi nyatanya mereka memungkasinya dengan kesalahan dan dosa.
Wahai saudaraku seiman!
Jangan lupa! Tuhan pemilik bulan Ramadhan adalah juga Tuhan pada bulan-bulan yang lain. Untuk itu, teruskan ibadahmu dan memohonlah kepada Allah Ta’ala, agar engkau diberi kekuatan untuk selalu beribadah kepada-Nya sampai ajal menjemputmu. Ingat, sesungguhnya akhir ibadah bukanlah hari raya Idul Fitri, tetapi batas akhirnya adalah kematian, sebagaimana firman AllahTa’ala,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ {99}
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.(QS. Al-Hijr: 99)
Sebagian ulama salaf menuturkan, “Aktifitas ibadah seorang muslim tidak mempunyai batas kecuali kematian yang menghadangnya.”
Imam Al-Hasan Rahimahullah berkata, “Sebagian kaum muslimin enggan meneruskan ibadahnya. Demi Allah, seorang yang beriman tidak mungkin beribadah hanya satu bulan, dua bulan, lalu tidak beribadah sama sekali, atau satu tahun dua tahun, lalu ia tidak beribadah sama sekali. Tidak! demi Allah, tidak ada batas seorang mukmin dalam melakukan ibadah kecuali kematian.”
Ketika Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu dalam khutbahnya membaca ayat,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ {30}
Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka….. (QS. Fushshilat: 30), maka beliau berkata, “Beristiqamahlah dalam ketaatan kalian, janganlah kalian menipu seperti musang berbulu domba.”
Wahai saudaraku tercinta!
Renungkanlah perputaran hari-harimu yang sangat cepat berlalu. Bersegeralah melakukan pertaubatan kepada Allah Ta’ala. Teguhkanlah hatimu untuk selalu taat beribadah kepada-Nya, karena hidupmu di dunia ini hanya hitungan hari yang sangat sedikit sekali. Ingatlah selalu bahwa seorang mukmin sejati tidak akan puas, sebelum memastikan kedua kakinya berada di surga. Bersegeralah menuju surga yang terhampar seluas bumi dan langit. Hindarkanlah dirimu dari kobaran api neraka, yang menjadi tempat abadi bagi orang-orang yang celaka. Ingatlah selalu sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berikut ini,
سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَأَنَّ أَحَبَّ اْلأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Luruskanlah niat kalian dan saling mendekatlah kalian semua. Ketahuilah bahwa ibadahmu tidak akan bisa mengantarkanmu ke surga. Sesungguhnya amal ibadah yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala adalah yang paling langgeng meskipun itu sedikit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)[2]
Ya Allah, tetapkanlah kami dalam iman dan amal shalih, hidupkanlah kami dalam kehidupan yang baik, dan masukkanlah kami ke dalam orang-orang yang shalih.
Ya Allah, terimalah amal shalih kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
Ya Allah, ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan semua kaum muslimin.
___________________________
[1] HR. Abu Dawud (nomor 1134); HR. An-Nasa`i (nomor 1556).
[2] HR. Al-Bukhari (nomor 6464); HR. Muslim (nomor 2818). Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha.

Redaktur: Ibnu Umar
Sumber: Kitab Durus Al-‘Am, Dr. Abdul Malik Al-Qasim


0 komentar :

Posting Komentar