Home » , » HARDIKNAS - Meningkatkan Kualitas dan Akses Berkeadilan

HARDIKNAS - Meningkatkan Kualitas dan Akses Berkeadilan

Posted by UKMI Ar-Rahman UNIMED

 2 MEI - DALAM KENANGAN BANGSA INDONESIA

Penulis : Sri Suci Ramadhani (Humas UKMI Ar-Rahman Unimed)
Gambar : SPK UKMI Ar-Rahman Unimed




'Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan’ Tan Malaka. 2 Mei, kembali hadir dengan segala keruetan yang menjuntai di beberapa lini dalam sistem pendidikan di Indonesia. Dalam bentuk dan aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah, dengan harapan mampu memperbaiki kondisi pendidikan yang dinilai belum baik dan terarah. Maka ini yang hari ini kita coba kaji mengenai ‘warisan kata pendidikan’ Ki Hajar Dewantara, Boedi Utomo, dan lain sebagainya.  Perkataan Tan Malaka yang yang menjadi tujuan adanya pendidikan, malah menjadikan pendidikan berlatar kebiadaban. Nah kenapa?
Jawabnnya ada disini, sebagian besar atau bahkan semua orang (pejabat) yang melakukan korupsi adalah orang ber-pendidikan, memiliki berderet huruf tambahan di belakang namanya, bahkan didepan namanya. Jika pendidikan bisa mempertajam kecerdasan, lalu kenapa tidak bisa mamperhalus perasaan. Ketika tindak korupsi dianggap sebagai salah bentuk tajamnya kecerdasan seseorang, maka kemana perasaan yang berisi ungkapan jiwa para rakyat Indonesia yang miskin dan fakir.
Jika pendidikan bisa memperkukuh kemauan, maka kata dua kata ini sedang dijadikan para koruptor dalam melancarkan aksinya. Orang berpendidikan cenderung cerdas, dan selalu ingin tahu, dan ketika keingin tahuannya membawa ‘berkah’ maka secara otomatis ia akan mengulangi tindakan yang dianggapnya adalah ‘berkah’. Ini yang menyebabkan kenapa seorang koruptor tidak ada yang mengkorup hanya jutaan, paling rendah adalah ratusan juta.
Mutu pendidikan yang masih belum merata di seluruh sudut Indonesia, bangsa Indonesia mendapat tamparan besar ketika pelaksanaan Ujian Nasional (UN) maret lalu, ketika jalur pendidikan dijadikan ajang bisnis komersil dan politisi. Dan bahkan jumlah soal yang kurang dan keterlambatan kedatangan soal ujian.
Banyak memang kemelut yang dirasakan oleh bangsa Indonesia hari ini, terkhusus mutu pendidikan yang yang ber-motto tak bermutu. Namun sering dengan melonjaknya Indonesia menuju kearah yang lebih baik, Indonesia juga mengadakan perbaikan yang cukup signifikan. Diantaranya adalah memberikan bantuan kepada mahasiswa yang memiliki perekonomian rendah, dan memiliki kerja sama dengan negeri lain dalam pertukaran pemuda dan pertukaran mahasiswa antar  Negara.
Indonesia bisa, karena Indonesia mampu, karena Indonesia memiliki banyak orang cerdas yang pintar. Hari Pendidikan Nasional, semoga bisa dijadikan ajang perbaikan mutu pendidikan Indonesia, mampu membarengi laju perekonomian demi kemajuan bangsa. Jika 2015 adalah benar ada pasar bebas, maka Indonesia pasti siap dalam persaingan yang maha hebat itu. Melalui pendidikan, Indonesia bisa lebih baik. Semangat Indonesia, dan ini harapan kami, 240 juta rakyat Indonesia. (Medan, 02/05)


0 komentar :

Posting Komentar