Bahasa adalah
salah satu anugrah dari Allah SWT yang diberikan kepada manusia. Bahasa menjadi
pembeda antara manusia dengan makhluk hidup lainnya. Manusia dapat menggunakan
bahasa lisan dan tulisan dalam berkomunikasi, sedangkan makhluk hidup lain
tidak bisa.
Ilmu bahasa
menyatakan ada empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara,
membaca, dan menulis. Keempat keterampilan berbahasa ini berhubungan satu sama
lain. Orang yang pendengarannya bermasalah (tuli) akan berimbas pada
keterampilan berbicaranya (bisu). Dengan demikian, belajar membaca dan menulis secara
normal pun juga terhambat.
Menulis sebagai
salah satu keterampilan berbahasa merupakan keterampilan yang paling tinggi
tingkatannya. Hal ini dikarenakan menulis merupakan muara dari ketiga kemampuan
berbahasa. Keterampilan menyimak, berbicara, dan membaca dapat diejawantahkan
dalam kemampuan menulis.
Kemampuan
menulis tidak bisa disepelekan. Menulis ini merupakan proses kreatif. Dikatakan
demikian karena menulis sebenarnya mengaktifkan kerja otak untuk berpikir dan
mencari ide yang ingin ditulis. Selanjutnya, ide ditemukan diteruskan untuk
merangkainya menjadi deretan kata-kata penuh makna yang membuat pembaca
terpesona.
Menulis
terdengar gampang namun sulit mengerjakannya. Banyak di antara kita yang suka
bercerita tapi tidak suka menulis. Padahal jika cerita itu dituliskan akan
menghasilkan sebuah tulisan. Tulisan itu akan dapat berguna untuk waktu yang
panjang karena sudah terekam dalam lembaran-lembaran kertas (kertas digital).
Menulis memang
harus dilatih atau dibiasakan. Kemampuan menulis akan terlahir jika terus
diasah. Seorang penulis hebat tidak akan mampu menelurkan karya hebatnya jika
belum pernah menghasilkan tulisan yang jelek. Selain berlatih, asupan gizinya
yang lain adalah membaca. Dari membaca terserap informasi baru. Kemudian
dituangkan lagi menjadi sebuah tulisan.
Zaman teknologi informasi
sekarang, informasi menjadi hal yang penting. Menyampaikan informasi, menulis
dan membaca menjadi hal penting. Bukti konkretnya adalah status yang tertulis
di jejaring sosial. Apakah di facebook, twitter, Instagram, BBM, dan
sebagainya. Pentingnya informasi ini membuat dan mengajak orang untuk
membacanya. Setelah dibaca kemudian ada hasrat untuk menuliskan balasannya.
Mungkin sebuah pengapresiasian atau mungkin juga dalam bentuk yang lain.
Yang terpenting
adalah bagaimana mengefektifkan kemampuan menulis ini. Seperti yang telah
disampaikan sebelumnya bahwa menulis harus dilatih untuk mendapatkan hasil
terbaik. Jadi, tidaklah salah jika kemampuan menulis dilatih dari hal yang
kecil, yakni menuliskan sebuah status di jejaring sosial. Namun perlu
digarisbawahi walaupun menulis status bersifat subjektif tetapi sebagai
penulisnya juga harus jeli memilih tulisan yang ingin ditulis di jejaring
sosial tersebut. Dalam artian tidak sembarang tulisan yang dituliskan. Namun,
jika ingin lebih mendapatkan hasil maksimal, gunakan blog pribadi sebagai arena
penyampai tulisan.
Sebagai penutup, mari menebar informasi (kebaikan) lewat
tulisan. Mari menulis, mari mengabadikan diri. Terima kasih. (Justianus
Tarigan/Basastrasia Unimed 2010)

^_^
BalasHapus