Aku
yang lemah tanpamu
Aku
yang rentan karena
Cinta
yang telah hilang darimu
Yang
mampu menyanjungku
Selama
mata terbuka
Sampai
jantung tak berdetak
Selama itupun aku mampu untuk mengenangmu
Bila
yang tertulis untukku
Adalah
yang terbaik untukmu
Kan
kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku
Namun
takkan mudah bagiku
Meninggalkan
jejak hidupmu
Yang
telah terukir abadi
Sebagai
kenangan yang terindah
Bait-bait yang dilantunkan dengan indah oleh Bams
Samson dan kawan-kawan. Tentang sebuah kenangan terindah.
Tentunya tak hanya Samson yang memiliki kenangan
terindah. Setiap orang tentu
juga punya. Tak terkecuali komunitas bernama umat muslim ini. Ya, umat ini
pernah mengalami masa-masa romantis yang luar biasa dalam sejarah. Dan sebagaimana
yang diujarkan Samson. Selama mata
terbuka// Sampai jantung tak berdetak// Selama itupun aku mampu untuk
mengenangmu..
Sudah
sepantasnyalah kita senantiasa menyimpan dan mengenang kenangan terindah
tersebut.
Maka izinkanlah sejenak mengajak anda bertamasya, Ya... sekedar tamasya menelusuri
jejak-jejak ’kenangan terindah’ umat ini. Bukan bermaksud untuk beromansa
sehingga kita larut dalam romantisme sejarah. Namun sesungguhnya bagi orang
beriman, sebuah kenangan adalah ’ibrah yang patut diambil hikmah di dalamnya.
Dan siapa lagi kenangan terindah teladan sang pemimpin terbudiman selain Nabi Muhammad Rasulullah SAW?
Kenangan
Terindah Umat Muslim
Kini kita berada di sebuah gua di pinggiran kota yang dalam AlQur’an disebut
sebagai Bakkah. Kota tua dimana Ibrahim meninggalkan keturunannya beranak pinak
di sana. Kota tua tempat bertengger rumah Allah, bangunan suci pertama. Kota
dengan segala kemuliaan, yang membuat iri Abrahah, sehingga bernafsu untuk
merebutnya. Dan di kota ini, kota yang aman ini, tempat berkumpul
manusia-manusia dari kabilah-kabilah Arab terkemuka, sibuk dengan urusan
duniawinya. Maka di situlah, di gua yang jauh dari keramaian, termenung seorang
hamba berparas elok, namun hatinya gundah. kegundahan melihat masyarakatnya yang
jauh dari semangat keilahian. Agama Ibrahim yang diwariskan turun temurun telah
tercampakkan, tergantikan dengan berhala-berhala yang dinisbatkan sebagai
wakil-wakil perantara Allah. Dan kemungkaran pun menjadi raja hingga anak
perempuan dikubur hidup-hidup oleh bapaknya serta perzinaan menjadi hal yang biasa.
Dalam lengang diharapkannya sebuah cahaya, cahaya
yang bisa menuntunnya dalam menemukan hakikat.
Sampai suatu ketika, saat hanya keterlelapan yang
memenuhi kota, tiba-tiba dirinya didekap keras, “Bacalah!”
“aku tidak dapat membaca” sanggahnya. Berkali dia
ucapkan, hingga akhirnya mengalir kalimat-kalimat mutiara yang terabadikan
dalam Surah Al’Alaq:
“Bacalah
dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan
manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Mahamulia. Yang mengajar
manusia dengan perantaraan kalam. Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya”
Tubuh itu pulang dengan merinding ke rumahnya.
Diselimutinya tubuhnya. Ini adalah sebuah peristiwa besar yang mengubah jalan hidupnya. Peristiwa
ini sebenarnya bukan hanya mengubah jalan hidupnya, namun juga merubah jalan
hidup umat manusia keseluruhan, mengubah dunia.
Dan semenjak saat itu terpancanglah panji-panji
tauhid. Gentarlah kaum kafir dengan bahana Laailaha illallah. Binasalah kemusyrikan,
sirnalah Latta, Uzza, dan Manat. Terpadamlah api-api majusi dan runtuhlah
istana-istana kisra persi serta terkuburlah kedigdayaan romawi.
Dan cahaya dakwah itu. Cahaya yang pada mulanya
hanya seperti nyala api lilin yang kecil, namun dalam hitungan detik terus
membesar membakar dan menerangi sekitar. Ketika pada awalnya hanya
bisikan-bisikan dari mulut ke mulut, kemudian hari menjelma menjadi teriakan
yang membuat panas para pembesar Quraisy, kabilah yang diagungkan di jazirah
itu. Tertindih batulah wahai Bilal, terusirlah Saad, tersisihlah dari kemewahan
Mush’ab, dan syahid tertusuk tombaklah Sumayyah. Namun terbangunlah Singa Allah
Hamzah, dan terhunuslah pedang Ibnu Khattab.
Hingga tibalah saatnya jumlah kian hari kian bertambah, maka keimanan sudah tidak pantas lagi bersanding serumah dengan
kemusyrikan. Maka lembah Yastrib nan subur pun menunggu kaum pejuang itu.
Tidak! mereka bukan terusir dari kampungnya. Karena sekali lagi sudah tiba. Saatnya kebenaran menjadi adidaya dan Madinah al-Munawwarahlah habitat awalnya.
Kegemilangan saat Perang Khandaq
Saat itu pada tahun kelima hijriah, Negara Madinah berada dalam keadaan kritis.
Negara yang baru berdiri itu terancam dihancurleburkan musuh. Dari luar 40 ribu
pasukan sekutu pimpinan Quraisy telah bersiap menyerang. Sementara dari arah
atas, komplotan Yahudi bani Quraizah mengkhianati perjanjiannya dan berkomplot
dengan sekutu untuk turut menghancurkan Madinah. Sementara dari dalam selimut,
kaum munafik terus memerosoti, mempreteli, memfitnah kaum mukminin.
Peristiwa itu dalam sirah dinamakan sebagai perang khandaq yang
berarti perang parit. Dinamai perang parit karena untuk pertama kalinya, Rasul
menerapkan strategi perang defensif dengan menggali parit sebagai benteng di
perbatasan Madinah. Sebuah strategi yang belum pernah dikenal di jazirah Arab
sebelumnya.
Namun ada hal yang menarik dalam penggalan kisah ini.
Saat penggalian parit diceritakan para sahabat kesulitan
menghancurkan sebuah batu besar. Tak ada seorangpun yang berhasil
menghancurkannya. Maka majulah Rasulullah. Beliau mengucapkan basmallah dan
mengangkat kedua tangannya yang mulia. Dihunjamkannya tembilang sekuat tenaga
ke batu besar tadi. Batu itupun terbelah dan dari celah belahannya keluar
lambaian api yang tinggi menerangi
”Allahu Akbar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci istana negeri Persi,
dan dari lambaian api tadi nampak olehku dengan nyata istana-istana kerajaan
Hirah dan kota-kota maharaja Persi dan bahwa ummatku akan menguasai semua itu”
Rasulullah mengangkat tembilang untuk kedua kalinya, maka tampaklah
kembali lambaian api yang tinggi
”Allahu Akbar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci negara Romawi, dan
tampak nyata olehku istana-istana merahnya, dan bahwa ummatku akan
menguasainya”
Hingga untuk ketiga kalinya, Rasulullah memukulkan tembilang. Kini
batu itu pun pecah berderai, sementara kembali api terpancar memancarkan cahaya
benderang
”Allahu akbar! Aku melihat istana-istana dan mahligai-mahligai di
Syria maupun Shan’a. Dan bahwa ummatku akan menguasainya”
Sahabat, lihatlah! Dalam suasana genting dimana secara logika akal
sehat,
kumpulan kecil kaum muslimin ini beberapa saat lagi bakal musnah dihancurkan
oleh kekuatan besar dari segala penjuru. Namun uniknya, Rasulullah disini malah
memberikan sebuah mimpi yang bertolak belakang dengan realita kala itu.
Rasulullah bukan hanya meyakinkan bahwa mereka kaum muslimin bakal selamat dari
serbuan itu atau sekedar memenangkan pertempuran itu. Bahkan, jauh lebih
dahsyat dari itu, Rasulullah meyakinkan kaum yang terancam punah itu, bahwa
dalam waktu dekat mereka malahan bukan hanya mengalahkan Quraisy dan jazirah Arabia.
Bahkan negara kecil Madinah ini akan berkembang menjadi kekuatan super
mengalahkan dua kekuatan adidaya yang saat itu bercokol yaitu Romawi dan Persia , termasuk daerah lain seperti Syria
dan lainnya.
Rasulullah mengajarkan kita, bahkan di saat-saat paling mengancam
pun, tetap harus berani bermimpi dan
mengorbankan semangat juang.
Sebagaimana firman Allah SWT:
Hai Nabi, kobarkanlah
semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar
diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan
jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat
mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum
yang tidak mengerti. (T.Q.S Al-Anfaal :65)
Tiada Kata Terlambat Untuk Berjuang
Mimpi adalah khayalan yang
memiliki realita
Cita-cita adalah mimpi yang
memiliki target
Visi adalah cita-cita yang
memiliki metode pencapaian
Sementara,....
Realita adalah visi yang
telah mewujud.
Sobat, tahu bagaimana sejarah planet biru ini
ditulis? Sesungguhnya
yang ditulis dalam sejarah dunia tidak ada satu persen pun dari
kejadian-kejadian yang ada. Di suatu kurun dalam sejarah paling-paling yang
disorot hanya beberapa lokasi tertentu, pada beberapa hari atau jam tertentu,
yang diperankan oleh beberapa manusia tertentu. Sementara ribuan lokasi lainnya diabaikan,
ribuan jam sisanya dilupakan, dan jutaan manusia lainnya disingkirkan. Namun,
kita yang membaca sejarah tersebut justru telah merasa cukup terwakili hanya
dengan cuilan tersebut.
Sejak Adam menginjakkan kakinya,
bumi telah dijejaki oleh milyaran tapak kaki manusia. Sebagian
besar dari jejak itu lenyap begitu saja. Hanya sedikit yang terekam sebagai jejak-jejak
yang berharga. Kata-kata kasarnya, kebanyakan mereka terlahir di dunia hanyalah
untuk ‘dikubur’. Kemunculannya tidak membawa hal yang berharga. Mereka numpang
lahir, numpang makan, numpang tumbuh berkembang, dan pada akhirnya hanya untuk
menumpangi sebidang tanah satu kali dua meter. Jangankan setelah matinya, saat
hidupnya pun dirinya tidak dikenang dan tidak dianggap ada.
Dari sekian milyar itu, ada segelintir yang menampakkan cahayanya.
Mereka adalah sedikit yang mencoba tampak berbeda. Merekalah yang pada akhirnya
tercatat sebagai pemeran utama dalam lembar-lembar sejarah.
Saat orang lain berjalan lesu lurus mengikut arus.
Dia tampak berbeda mengayuh melawan deras ombak.
Saat orang lain melihat terjal batu karang, matanya malah menatap garang, dan mengatakan ini
tantangan!
Saat yang lain meringis saat terjatuh, dia malah bergumam: Tanpa terjatuh,
kita tak akan pernah bangkit!
Saat yang lain berkata aku gagal.
Dia malah tersenyum: sedikit lagi, jalan menuju kesuksesan itu akan tiba...
Saat yang lain berkata tidak
mungkin! Dia menolak keras: tak ada yang tak mungkin, selain hal yang tak
dimungkinkan Allah!!
Dan saat yang lain hanya memikirkan tentang hari
ini, kedua matanya malah
telah jauh menatap alam masa depan.
Dia berbeda..
Dia enggan disebut manusia
biasa-biasa....
Dia..
Awalnya, Sang Pemimpi.
Namun teguh dirinya telah sukses
membawa mimpinya ke Alam Realita.
Maka saat ini,tidak ada kata terlambat untuk
berjuang, ketika seseorang memilki kemauan, realisasikanlah dengan ikhtiar,
semangat dan selalu optimis, pantang mundur, Insyallah akan tercapai.
"If you can imagine it, you can create it. If you
can dream it, you can become it."
William
Arthur Ward
Seperti kata-kata yang kita kenal
dalam novel, ”Saya akan menginjakkan kaki saya di altar suci Sorbonne”
Begitu ucap Ikal dalam novel Sang
Pemimpi dan Laskar Pelangi.
Saat dia berikrar, bahkan mungkin
dirinya tak pernah membayangkan caranya bisa menyeberang menjauh dari kebekuan
alam Belitong dimana kedua kakinya menancap, di sebuah SMA satu-satunya di
mantan pulau penghasil timah tersebut. Bagaimana mungkin, anak miskin ini bisa
mencapai sebuah universitas bergengsi tingkat dunia itu,Universitas eksklusif,
hanya bagi mereka yang terpilih.
Bagai pungguk tak tahu malu yang
sudah berulang kali disindir namun tetap saja berani-beraninya merindukan
bulan.
Namun apa yang tidak mungkin di
dunia ini bila Allah menginginkan....
Modal yang dimiliki Ikal adalah
keyakinan!
Benaknya liar menjelajah jauh
melintasi samudra mendarat di altar suci Sorbonne kenamaan itu, meski pada saat
itu dirinya masih terkungkung jauh bermil-mil di lantai-lantai rapuh SMA
Belitong.
write by Hamidatunnisa (staf dept. SPK 2016-2017 ukmi ar-rahman unimed)

0 komentar :
Posting Komentar