So, Berani Bermimpi!

Posted by UKMI Ar-Rahman UNIMED



Aku yang lemah tanpamu
Aku yang rentan karena
Cinta yang telah hilang darimu
Yang mampu menyanjungku

Selama mata terbuka
Sampai jantung tak berdetak
Selama itupun aku mampu untuk mengenangmu

Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
Kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku

Namun takkan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupmu
Yang telah terukir abadi
Sebagai kenangan yang terindah

Bait-bait yang dilantunkan dengan indah oleh Bams Samson dan kawan-kawan. Tentang sebuah kenangan terindah.
Tentunya tak hanya Samson yang memiliki kenangan terindah. Setiap orang tentu juga punya. Tak terkecuali komunitas bernama umat muslim ini. Ya, umat ini pernah mengalami masa-masa romantis yang luar biasa dalam sejarah. Dan sebagaimana yang diujarkan Samson. Selama mata terbuka// Sampai jantung tak berdetak// Selama itupun aku mampu untuk mengenangmu..
Sudah sepantasnyalah kita senantiasa menyimpan dan mengenang kenangan terindah tersebut.
Maka izinkanlah sejenak mengajak anda bertamasya, Ya... sekedar tamasya menelusuri jejak-jejak ’kenangan terindah’ umat ini. Bukan bermaksud untuk beromansa sehingga kita larut dalam romantisme sejarah. Namun sesungguhnya bagi orang beriman, sebuah kenangan adalah ’ibrah yang patut diambil hikmah di dalamnya.
Dan siapa lagi kenangan terindah teladan sang pemimpin terbudiman selain Nabi Muhammad Rasulullah SAW?

Kenangan Terindah Umat Muslim
Kini kita berada di sebuah gua di pinggiran kota yang dalam AlQur’an disebut sebagai Bakkah. Kota tua dimana Ibrahim meninggalkan keturunannya beranak pinak di sana. Kota tua tempat bertengger rumah Allah, bangunan suci pertama. Kota dengan segala kemuliaan, yang membuat iri Abrahah, sehingga bernafsu untuk merebutnya. Dan di kota ini, kota yang aman ini, tempat berkumpul manusia-manusia dari kabilah-kabilah Arab terkemuka, sibuk dengan urusan duniawinya. Maka di situlah, di gua yang jauh dari keramaian, termenung seorang hamba berparas elok, namun hatinya gundah. kegundahan melihat masyarakatnya yang jauh dari semangat keilahian. Agama Ibrahim yang diwariskan turun temurun telah tercampakkan, tergantikan dengan berhala-berhala yang dinisbatkan sebagai wakil-wakil perantara Allah. Dan kemungkaran pun menjadi raja hingga anak perempuan dikubur hidup-hidup oleh bapaknya serta  perzinaan menjadi hal yang biasa.
Dalam lengang diharapkannya sebuah cahaya, cahaya yang bisa menuntunnya dalam menemukan hakikat.
Sampai suatu ketika, saat hanya keterlelapan yang memenuhi kota, tiba-tiba dirinya didekap keras, “Bacalah!”
“aku tidak dapat membaca” sanggahnya. Berkali dia ucapkan, hingga akhirnya mengalir kalimat-kalimat mutiara yang terabadikan dalam Surah Al’Alaq:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya”
Tubuh itu pulang dengan merinding ke rumahnya. Diselimutinya tubuhnya. Ini adalah sebuah peristiwa besar yang mengubah jalan hidupnya.  Peristiwa ini sebenarnya bukan hanya mengubah jalan hidupnya, namun juga merubah jalan hidup umat manusia keseluruhan, mengubah dunia.
Dan semenjak saat itu terpancanglah panji-panji tauhid. Gentarlah kaum kafir dengan bahana Laailaha illallah. Binasalah kemusyrikan, sirnalah Latta, Uzza, dan Manat. Terpadamlah api-api majusi dan runtuhlah istana-istana kisra persi serta terkuburlah kedigdayaan romawi.
Dan cahaya dakwah itu. Cahaya yang pada mulanya hanya seperti nyala api lilin yang kecil, namun dalam hitungan detik terus membesar membakar dan menerangi sekitar. Ketika pada awalnya hanya bisikan-bisikan dari mulut ke mulut, kemudian hari menjelma menjadi teriakan yang membuat panas para pembesar Quraisy, kabilah yang diagungkan di jazirah itu. Tertindih batulah wahai Bilal, terusirlah Saad, tersisihlah dari kemewahan Mush’ab, dan syahid tertusuk tombaklah Sumayyah. Namun terbangunlah Singa Allah Hamzah, dan terhunuslah pedang Ibnu Khattab.
Hingga tibalah saatnya jumlah kian hari kian bertambah, maka keimanan sudah tidak pantas lagi bersanding serumah dengan kemusyrikan. Maka lembah Yastrib nan subur pun menunggu kaum pejuang itu. Tidak! mereka bukan terusir dari kampungnya. Karena sekali lagi sudah tiba. Saatnya kebenaran menjadi adidaya dan Madinah al-Munawwarahlah habitat awalnya.

Kegemilangan saat Perang Khandaq
Saat itu pada tahun kelima hijriah, Negara Madinah berada dalam keadaan kritis. Negara yang baru berdiri itu terancam dihancurleburkan musuh. Dari luar 40 ribu pasukan sekutu pimpinan Quraisy telah bersiap menyerang. Sementara dari arah atas, komplotan Yahudi bani Quraizah mengkhianati perjanjiannya dan berkomplot dengan sekutu untuk turut menghancurkan Madinah. Sementara dari dalam selimut, kaum munafik terus memerosoti, mempreteli, memfitnah kaum mukminin.
Peristiwa itu dalam sirah dinamakan sebagai perang khandaq yang berarti perang parit. Dinamai perang parit karena untuk pertama kalinya, Rasul menerapkan strategi perang defensif dengan menggali parit sebagai benteng di perbatasan Madinah. Sebuah strategi yang belum pernah dikenal di jazirah Arab sebelumnya.
Namun ada hal yang menarik dalam penggalan kisah ini.
Saat penggalian parit diceritakan para sahabat kesulitan menghancurkan sebuah batu besar. Tak ada seorangpun yang berhasil menghancurkannya. Maka majulah Rasulullah. Beliau mengucapkan basmallah dan mengangkat kedua tangannya yang mulia. Dihunjamkannya tembilang sekuat tenaga ke batu besar tadi. Batu itupun terbelah dan dari celah belahannya keluar lambaian api yang tinggi menerangi
”Allahu Akbar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci istana negeri Persi, dan dari lambaian api tadi nampak olehku dengan nyata istana-istana kerajaan Hirah dan kota-kota maharaja Persi dan bahwa ummatku akan menguasai semua itu”
Rasulullah mengangkat tembilang untuk kedua kalinya, maka tampaklah kembali lambaian api yang tinggi
”Allahu Akbar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci negara Romawi, dan tampak nyata olehku istana-istana merahnya, dan bahwa ummatku akan menguasainya”
Hingga untuk ketiga kalinya, Rasulullah memukulkan tembilang. Kini batu itu pun pecah berderai, sementara kembali api terpancar memancarkan cahaya benderang
”Allahu akbar! Aku melihat istana-istana dan mahligai-mahligai di Syria maupun Shan’a. Dan bahwa ummatku akan menguasainya”
Sahabat, lihatlah! Dalam suasana genting dimana secara logika akal sehat, kumpulan kecil kaum muslimin ini beberapa saat lagi bakal musnah dihancurkan oleh kekuatan besar dari segala penjuru. Namun uniknya, Rasulullah disini malah memberikan sebuah mimpi yang bertolak belakang dengan realita kala itu. Rasulullah bukan hanya meyakinkan bahwa mereka kaum muslimin bakal selamat dari serbuan itu atau sekedar memenangkan pertempuran itu. Bahkan, jauh lebih dahsyat dari itu, Rasulullah meyakinkan kaum yang terancam punah itu, bahwa dalam waktu dekat mereka malahan bukan hanya mengalahkan Quraisy dan jazirah Arabia. Bahkan negara kecil Madinah ini akan berkembang menjadi kekuatan super mengalahkan dua kekuatan adidaya yang saat itu bercokol yaitu Romawi dan Persia, termasuk daerah lain seperti Syria dan lainnya.
Rasulullah mengajarkan kita, bahkan di saat-saat paling mengancam pun, tetap harus berani bermimpi dan mengorbankan semangat juang.

Sebagaimana firman Allah SWT:

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (T.Q.S Al-Anfaal :65)


Tiada Kata Terlambat Untuk Berjuang

Mimpi adalah khayalan yang memiliki realita
Cita-cita adalah mimpi yang memiliki target
Visi adalah cita-cita yang memiliki metode pencapaian
Sementara,....
Realita adalah visi yang telah mewujud.

Sobat, tahu bagaimana sejarah planet biru ini ditulis? Sesungguhnya yang ditulis dalam sejarah dunia tidak ada satu persen pun dari kejadian-kejadian yang ada. Di suatu kurun dalam sejarah paling-paling yang disorot hanya beberapa lokasi tertentu, pada beberapa hari atau jam tertentu, yang diperankan oleh beberapa manusia tertentu.     Sementara ribuan lokasi lainnya diabaikan, ribuan jam sisanya dilupakan, dan jutaan manusia lainnya disingkirkan. Namun, kita yang membaca sejarah tersebut justru telah merasa cukup terwakili hanya dengan cuilan tersebut.
Sejak Adam menginjakkan kakinya, bumi telah dijejaki oleh milyaran tapak kaki manusia. Sebagian besar dari jejak itu lenyap begitu saja. Hanya sedikit yang terekam sebagai jejak-jejak yang berharga. Kata-kata kasarnya, kebanyakan mereka terlahir di dunia hanyalah untuk ‘dikubur’. Kemunculannya tidak membawa hal yang berharga. Mereka numpang lahir, numpang makan, numpang tumbuh berkembang, dan pada akhirnya hanya untuk menumpangi sebidang tanah satu kali dua meter. Jangankan setelah matinya, saat hidupnya pun dirinya tidak dikenang dan tidak dianggap ada.
Dari sekian milyar itu, ada segelintir yang menampakkan cahayanya. Mereka adalah sedikit yang mencoba tampak berbeda. Merekalah yang pada akhirnya tercatat sebagai pemeran utama dalam lembar-lembar sejarah.
Saat orang lain berjalan lesu lurus mengikut arus. Dia tampak berbeda mengayuh melawan deras ombak.
Saat orang lain melihat terjal batu karang, matanya malah menatap garang, dan mengatakan ini tantangan!
Saat yang lain meringis saat terjatuh, dia malah bergumam: Tanpa terjatuh, kita tak akan pernah bangkit!
Saat yang lain berkata aku gagal. Dia malah tersenyum: sedikit lagi, jalan menuju kesuksesan itu akan tiba...
Saat yang lain berkata tidak mungkin! Dia menolak keras: tak ada yang tak mungkin, selain hal yang tak dimungkinkan Allah!!
Dan saat yang lain hanya memikirkan tentang hari ini, kedua matanya malah telah jauh menatap alam masa depan.
Dia berbeda..
Dia enggan disebut manusia biasa-biasa....
Dia..
Awalnya, Sang Pemimpi.
Namun teguh dirinya telah sukses membawa mimpinya ke Alam Realita.
Maka saat ini,tidak ada kata terlambat untuk berjuang, ketika seseorang memilki kemauan, realisasikanlah dengan ikhtiar, semangat dan selalu optimis, pantang mundur, Insyallah akan tercapai.

"If you can imagine it, you can create it. If you can dream it, you can become it."
William Arthur Ward

Seperti kata-kata yang kita kenal dalam novel, ”Saya akan menginjakkan kaki saya di altar suci Sorbonne”
Begitu ucap Ikal dalam novel Sang Pemimpi dan Laskar Pelangi.
Saat dia berikrar, bahkan mungkin dirinya tak pernah membayangkan caranya bisa menyeberang menjauh dari kebekuan alam Belitong dimana kedua kakinya menancap, di sebuah SMA satu-satunya di mantan pulau penghasil timah tersebut. Bagaimana mungkin, anak miskin ini bisa mencapai sebuah universitas bergengsi tingkat dunia itu,Universitas eksklusif, hanya bagi mereka yang terpilih.
Bagai pungguk tak tahu malu yang sudah berulang kali disindir namun tetap saja berani-beraninya merindukan bulan.
Namun apa yang tidak mungkin di dunia ini bila Allah menginginkan....
Modal yang dimiliki Ikal adalah keyakinan!

Benaknya liar menjelajah jauh melintasi samudra mendarat di altar suci Sorbonne kenamaan itu, meski pada saat itu dirinya masih terkungkung jauh bermil-mil di lantai-lantai rapuh SMA Belitong.

write by Hamidatunnisa (staf dept. SPK 2016-2017 ukmi ar-rahman unimed)


0 komentar :

Posting Komentar