Home » , » Duhai Hati, Afwan…

Duhai Hati, Afwan…

Posted by UKMI Ar-Rahman UNIMED



Staff Dept. RPK 2012- 2013



Hupp..
Lalu aku merasakan sesuatu yang berbeda. Intensitas komunikasi ini memberikan efek yang dahsyat bagiku, seorang yang cukup perasa. Tidak dipungkiri, rasa itu muncul lagi. Dimana- mana, selalu saja ada yang menarik perhatian. 

Flashback, sejak di bangku SD, SMP, dan SMA, aku ternyata sudah cerdas memperhatikan sosok- sosok terbaik di arenaku. Namun itu semua kusimpan, hanya teman dekatku yang tahu. Iffah. Kesemua mereka hanya kusenangi sekejap saja. Hingga tamat SMA, tak satupun yang membekas dan ingin mengungkapkan rasa ini.

Sampailah aku ke bangku perkuliahan.  Wah, semakin terbuka lebar ruang untukku menumpahkan rasa ini. Mulai dari hadirnya sang hero di kelas, abang kelas yang perhatiannya minta ampun, hingga tak sengaja sosok di seberang sana juga menyentuh hatiku lewat hafalannya mencapai 3 juz. Luarbiasa. Tapi malangnya, aku tidak berani mengungkapkan rasa kagum dan terimakasihku pada mereka semua. Dan parahnya lagi, mereka pun tidak pernah mengungkapkannya. Jadi keseharian berlalu begitu saja, hanya saling memanfaatkan satu sama lain walau sebenarnya aku yang paling beruntung dari hubungan ini.

“Ukhti, ini tolong dicopy sebanyak peserta akhwatnya,” Irfan berbicara denganku namun pandangannya ke lantai sambil menyerahkan lembar evaluasi training jurnalistik.
“Insya Allah. Syukron akhi,” jawabku tanpa sedikitpun melihat wajahnya dan segera menuju tempat para akhwat berkumpul.

Ya, aku sekarang bergabung dengan sebuah Lembaga Dakwah Kampus yang ada di kampusku. Ini adalah organisasi Islam internal yang menaungi seluruh mahasiswa. Aku sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan mereka di sini, saudara- saudari atau yang lebih akrab dipanggil ikhwan dan akhwat yang mau sedikit memikirkan saudara muslim yang lain. 

Namun dalam perjalanan, lagi- lagi rasa itu muncul. Sebagai seorang perasa, aku harus berusaha sedikit lebih keras dibanding mereka yang terkesan cuek dan tidak ambil pusing.
“Gimana ane gak pusing, dia komunikasinya ke ane terus. Udah gitu nama ane disebut- sebut di depan ikhwan yang lain,” keluhku pada Ranti saat dua hari menjelang training jurnalistik.
“Lha, anti gak boleh gitu dong. Ya wajar dia komunikasi ke anti, secara anti kan sekretarisnya. Kalo tentang nama anti disebut- sebut, berhusnudzhon saja ukh. Paling bicarain terkait agenda dakwah kita,” Ranti mencoba menenangkanku.

Aku terdiam. Kebiasaanku memang, dinasihati hanya diam yang akan kuberikan. Aku butuh waktu mencerna kata- katanya. Ya, aku memang harus sering- sering bertafakur. Aku itu berbeda dengan akhwat yang lain. Aku gak bisa menerima satu perlakukan tanpa memikirkan apa latar belakang dan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Lama hingga aku akhirnya berikrar dalam hati untuk mengurangi intensitas komunikasi dan pertemuan. Aku semakin sadar bahwa apa yang kami lakukan selama ini telah meberikan banyak titik hitam di hatiku. Mungkin dia di sana biasa saja, tapi aku? Aku telah menanggung beban berat atas rasa ini. Rasa yang tak tersampaikan dan penyakit hati yang bersemayam. Benarlah, aku berbeda. Hingga aku pun harus punya startegi yang berbeda dalam mengelola rasa ini hingga ia tidak menjadi penghalang bagiku untuk berdakwah.
******************************************************************************

Huaaaa… Dengan panjang lebar, Yuna menceritakan semuanya padaku. Ternyata di balik keceriaannya dan kesuksesannya dalam mengemban semua amanah ini ada hambatan besar yang harus dilaluinya. Dan ini tentang perasaan, tentu jauh berbeda dengan hambatan yang kami alami. Mungkin kami hanya perlu memanajemen waktu untuk berbagai agenda yang tak jarang saling bertabrakan, dan dia? Dia harus juga mengelola rasa itu hingga ia tidak menghambat kinerjanya. Luarbiasa, pikirku. Mengurangi intensitas komunikasi? Bisa jadi itu adalah cara yang terbaik.

Ukhti fillah, mari sedikit dengarkan bisikan hati kita. Apa dia merasa nyaman dengan semua yang kita lakukan? Tidak jarang kita memaksanya untuk kuat menahan ‘beban’ yang jika dipikir- pikir ia pasti tidak akan sanggup. Bagaimana ia akan sanggup, sementara kita sangat jarang memberi suplemen untuk kekebalan tubuhnya? Bagaimana ia akan mampu bertahan, sementara kita lebih senang memberikan lantunan musik sebagai hiburannya dibandingkan dengan murattal Al Qur’an? Bagaimana ia akan mampu menepis semua godaan itu sementara kita lebih memilih untuk bercanda ria ba’da shalat daripada menyempatkan diri untuk tilawah? Dan bagaimana ia tumbuh subur sementara kita lebih senang membicarakan saudara kita yang sedikit berubah penampilannya daripada mengikuti kajian keislaman?

Hati seorang aktivis tentu berbeda dengan hati seorang non aktivis dakwah. Seorang aktivis dakwah tentunya tidak hanya terlihat kuat secara fisik layaknya seorang yang mampu mengelola berbagai agenda dengan hasil yang memuaskan. Namun apakah hanya itu? Kalau begitu, seorang karyawan yang tak mengimani Tuhan pun mampu demikian. Ternyata lebih dari itu ya ukhti. Seorang aktivis dakwah hendaknya selalu memperhatikan kondisi hatinya, tidak sombong hingga mengabaikan keluhan- keluhan hatinya.

Kembali pada permasalahan seorang akhwat yang telah dijelaskan di atas. Ya, rasa simpati yang berlanjut menjadi rasa cinta bisa saja datang dari berbagai sudut. Intensitas pertemuan dan komunikasi adalah 2 faktor utama yang bisa terus memupuk rasa itu. Lantas, bagaimana? Dakwah kan amal jama’ i. Pertemuan dan komunikasi itu pastinya selalu ada. Apakah selanjutnya kita harus memutus kedua hal ini dengan ikhwan? Boleh saja,  mengingat besarnya dampak yang diakibatkan ketika kedua hal ini terus berlanjut. Nah, apakah kemudian masalah akan selesai? Mungkin saja untuk satu hal ini selesai, namun ternyata kita telah menutup berbagai manfaat dan kebaikan jika seandainya kita melakukan hal ini. Bahkan manfaat dan kebaikan itu bisa jadi lebih besar daripada dampak negatif dari pertemuan dan komunikasi yang dilakukan.

Lalu bagaimana? Apakah kita rela jika hati ini terus diwarnai oleh kehadiran bayangan, suara, dan HP pun penuh dengan inbox dan sent item dengan mereka? Ternyata kita harus lebih dewasa dalam menyikapi ini. Itulah bedanya kita dengan non aktivis dakwah. Shortcut dengan memutus hubungan ini bukan jalan yang tepat.

Untuk mengantisipasi hal ini, satu sebenarnya yang perlu kita lakukan. Sering- seringlah berinteraksi dengan diri sendiri dan hati. Tanyakan, apakah ia setuju dengan tindakan kita, ucapan kita, dan pikiran kita? Dan jujurlah, saat ia mengatakan itu tidak benar dilakukan oleh seorang aktivis dakwah, maka kita harus terima. 
Tidak ada alasan untuk mencari pembenaran.



Duhai hati,
Maaf untuk semua perlakuan ini. Menuntutmu lebih sementara tidak satupun kebutuhanmu yang kami penuhi. Berharap engkau selalu berada dalam kondisi fit, namun sangat jauh sikap kami dari apa yang diharapkan.

Duhai hati,
Tidak ada yang lebih kami butuhkan kecuali kehadiranmu yang selalu mengingatkan kami saat kami mulai terlena. Tidak ada yang kami harapkan kecuali saat- saat indah berinteraksi denganmu dan menerima katamu dengan lapang dada.

Duhai hati,
Tetaplah tumbuh, kami kan berupaya maksimal memberikan yang terbaik untukmu. Tidak lain, agar hari- hari kami selalu diliputi keberkahan.


1 komentar :