Oleh: Nurhasanah Sidabalok
Staff Dept. RPK 2012- 2013
Hupp..
Lalu aku merasakan
sesuatu yang berbeda. Intensitas komunikasi ini memberikan efek yang dahsyat
bagiku, seorang yang cukup perasa. Tidak dipungkiri, rasa itu muncul lagi.
Dimana- mana, selalu saja ada yang menarik perhatian.
Flashback,
sejak di bangku SD, SMP, dan SMA, aku ternyata sudah cerdas memperhatikan
sosok- sosok terbaik di arenaku. Namun itu semua kusimpan, hanya teman dekatku
yang tahu. Iffah. Kesemua mereka hanya kusenangi sekejap saja. Hingga tamat
SMA, tak satupun yang membekas dan ingin mengungkapkan rasa ini.
Sampailah aku ke
bangku perkuliahan. Wah, semakin terbuka
lebar ruang untukku menumpahkan rasa ini. Mulai dari hadirnya sang hero di kelas, abang kelas yang
perhatiannya minta ampun, hingga tak sengaja sosok di seberang sana juga
menyentuh hatiku lewat hafalannya mencapai 3 juz. Luarbiasa. Tapi malangnya,
aku tidak berani mengungkapkan rasa kagum dan terimakasihku pada mereka semua.
Dan parahnya lagi, mereka pun tidak pernah mengungkapkannya. Jadi keseharian
berlalu begitu saja, hanya saling memanfaatkan satu sama lain walau sebenarnya
aku yang paling beruntung dari hubungan ini.
“Ukhti, ini tolong
dicopy sebanyak peserta akhwatnya,” Irfan
berbicara denganku namun pandangannya ke lantai sambil menyerahkan lembar evaluasi
training jurnalistik.
“Insya Allah.
Syukron akhi,” jawabku tanpa sedikitpun melihat wajahnya dan segera menuju
tempat para akhwat berkumpul.
Ya, aku sekarang
bergabung dengan sebuah Lembaga Dakwah Kampus yang ada di kampusku. Ini adalah
organisasi Islam internal yang menaungi seluruh mahasiswa. Aku sangat bersyukur
bisa dipertemukan dengan mereka di sini, saudara- saudari atau yang lebih akrab
dipanggil ikhwan dan akhwat yang mau sedikit memikirkan saudara muslim yang lain.
Namun dalam
perjalanan, lagi- lagi rasa itu muncul. Sebagai seorang perasa, aku harus
berusaha sedikit lebih keras dibanding mereka yang terkesan cuek dan tidak
ambil pusing.
“Gimana ane gak
pusing, dia komunikasinya ke ane terus. Udah gitu nama ane disebut- sebut di
depan ikhwan yang lain,” keluhku pada Ranti saat dua hari menjelang training
jurnalistik.
“Lha, anti gak
boleh gitu dong. Ya wajar dia komunikasi ke anti, secara anti kan
sekretarisnya. Kalo tentang nama anti disebut- sebut, berhusnudzhon saja ukh.
Paling bicarain terkait agenda dakwah kita,” Ranti mencoba menenangkanku.
Aku terdiam.
Kebiasaanku memang, dinasihati hanya diam yang akan kuberikan. Aku butuh waktu
mencerna kata- katanya. Ya, aku memang harus sering- sering bertafakur. Aku itu
berbeda dengan akhwat yang lain. Aku gak bisa menerima satu perlakukan tanpa
memikirkan apa latar belakang dan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Lama hingga aku
akhirnya berikrar dalam hati untuk mengurangi intensitas komunikasi dan
pertemuan. Aku semakin sadar bahwa apa yang kami lakukan selama ini telah
meberikan banyak titik hitam di hatiku. Mungkin dia di sana biasa saja, tapi
aku? Aku telah menanggung beban berat atas rasa ini. Rasa yang tak tersampaikan
dan penyakit hati yang bersemayam. Benarlah, aku berbeda. Hingga aku pun harus
punya startegi yang berbeda dalam mengelola rasa ini hingga ia tidak menjadi
penghalang bagiku untuk berdakwah.
******************************************************************************
Huaaaa… Dengan
panjang lebar, Yuna menceritakan semuanya padaku. Ternyata di balik
keceriaannya dan kesuksesannya dalam mengemban semua amanah ini ada hambatan
besar yang harus dilaluinya. Dan ini tentang perasaan, tentu jauh berbeda
dengan hambatan yang kami alami. Mungkin kami hanya perlu memanajemen waktu
untuk berbagai agenda yang tak jarang saling bertabrakan, dan dia? Dia harus
juga mengelola rasa itu hingga ia tidak menghambat kinerjanya. Luarbiasa,
pikirku. Mengurangi intensitas komunikasi? Bisa jadi itu adalah cara yang
terbaik.
Ukhti fillah, mari
sedikit dengarkan bisikan hati kita. Apa dia merasa nyaman dengan semua yang
kita lakukan? Tidak jarang kita memaksanya untuk kuat menahan ‘beban’ yang jika
dipikir- pikir ia pasti tidak akan sanggup. Bagaimana ia akan sanggup, sementara
kita sangat jarang memberi suplemen untuk kekebalan tubuhnya? Bagaimana ia akan
mampu bertahan, sementara kita lebih senang memberikan lantunan musik sebagai
hiburannya dibandingkan dengan murattal Al Qur’an? Bagaimana ia akan mampu
menepis semua godaan itu sementara kita lebih memilih untuk bercanda ria ba’da
shalat daripada menyempatkan diri untuk tilawah? Dan bagaimana ia tumbuh subur
sementara kita lebih senang membicarakan saudara kita yang sedikit berubah
penampilannya daripada mengikuti kajian keislaman?
Hati seorang
aktivis tentu berbeda dengan hati seorang non aktivis dakwah. Seorang aktivis
dakwah tentunya tidak hanya terlihat kuat secara fisik layaknya seorang yang
mampu mengelola berbagai agenda dengan hasil yang memuaskan. Namun apakah hanya
itu? Kalau begitu, seorang karyawan yang tak mengimani Tuhan pun mampu
demikian. Ternyata lebih dari itu ya ukhti. Seorang aktivis dakwah hendaknya
selalu memperhatikan kondisi hatinya, tidak sombong hingga mengabaikan keluhan-
keluhan hatinya.
Kembali pada
permasalahan seorang akhwat yang telah dijelaskan di atas. Ya, rasa simpati
yang berlanjut menjadi rasa cinta bisa saja datang dari berbagai sudut.
Intensitas pertemuan dan komunikasi adalah 2 faktor utama yang bisa terus
memupuk rasa itu. Lantas, bagaimana? Dakwah kan amal jama’ i. Pertemuan dan
komunikasi itu pastinya selalu ada. Apakah selanjutnya kita harus memutus kedua
hal ini dengan ikhwan? Boleh saja,
mengingat besarnya dampak yang diakibatkan ketika kedua hal ini terus
berlanjut. Nah, apakah kemudian masalah akan selesai? Mungkin saja untuk satu
hal ini selesai, namun ternyata kita telah menutup berbagai manfaat dan
kebaikan jika seandainya kita melakukan hal ini. Bahkan manfaat dan kebaikan
itu bisa jadi lebih besar daripada dampak negatif dari pertemuan dan komunikasi
yang dilakukan.
Lalu bagaimana?
Apakah kita rela jika hati ini terus diwarnai oleh kehadiran bayangan, suara,
dan HP pun penuh dengan inbox dan sent item dengan mereka? Ternyata
kita harus lebih dewasa dalam menyikapi ini. Itulah bedanya kita dengan non
aktivis dakwah. Shortcut dengan memutus hubungan ini bukan jalan yang
tepat.
Untuk
mengantisipasi hal ini, satu sebenarnya yang perlu kita lakukan. Sering-
seringlah berinteraksi dengan diri sendiri dan hati. Tanyakan, apakah ia setuju
dengan tindakan kita, ucapan kita, dan pikiran kita? Dan jujurlah, saat ia
mengatakan itu tidak benar dilakukan oleh seorang aktivis dakwah, maka kita
harus terima.
Tidak ada alasan untuk mencari pembenaran.
Duhai hati,
Maaf untuk semua
perlakuan ini. Menuntutmu lebih sementara tidak satupun kebutuhanmu yang kami
penuhi. Berharap engkau selalu berada dalam kondisi fit, namun sangat jauh
sikap kami dari apa yang diharapkan.
Duhai hati,
Tidak ada yang
lebih kami butuhkan kecuali kehadiranmu yang selalu mengingatkan kami saat kami
mulai terlena. Tidak ada yang kami harapkan kecuali saat- saat indah
berinteraksi denganmu dan menerima katamu dengan lapang dada.
Duhai hati,
Tetaplah tumbuh,
kami kan berupaya maksimal memberikan yang terbaik untukmu. Tidak lain, agar
hari- hari kami selalu diliputi keberkahan.


Duhai hati, 'afwan jiddan..
BalasHapus